Sakit Menguji Kesabaran

Nabi SAW bersabda, “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah SWT bila menyenangi suatu kaum, Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka ia mendapatkan manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka ia mendapatkan murka Allah.” (HR At-Tirmidzi)

Setiap orang pasti pernah mengalami sakit, baik ringan, sedang maupun berat. Nabi dan rasul saja pernah mengalami sakit, apalagi manusia biasa. Nabi Ayub AS, misalnya, diceritakan mengalami sakit kulit bahkan selama puluhan tahun. 

Tetapi, beliau tetap sabar dan terus berdoa kepada Allah SWT, tidak pernah mengeluh apalagi memprotes Allah. Beliau sadar, itu adalah ujian dari Allah SWT. Benar saja, akhirnya, setelah sembuh, Allah memberikan banyak sekali karunia rezeki kepada keluarga beliau. 

Sakit sesungguhnya menguji kesabaran seseorang. Semakin orang sakit sabar dalam sakitnya, semakin Allah SWT menyukainya. Sayangnya, ada orang yang saat diberi sakit agak lama, tidak sabar, lalu mencela, mengumpat dan marah-marah, misalnya kepada dokter, perawat, rumah sakit, atau yang lainnya. 

Orang seperti demikian hakikatnya tidak marah terhadap orang lain, tetapi marah kepada Allah. Allah SWT yang memberi ujian sakit, dan Dia juga yang akan menghilangkannya. Lantas, bagaimana ciri orang sabar saat sakit? 

Pertama, tetap optimistis atau tidak putus asa dan yakin bahwa Allah SWT pasti akan memberikan kesehatan, dengan terus berikhtiar berobat. 

Allah SWT berfirman dalam Alquran, mengutip pesan Nabi Yaqub kepada putra-putranya yang akan dikirimkan ke negeri Mesir guna menemui Yusuf, “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.”(QS Yusuf [12]: 87). 

Putus asa justru akan semakin menambah beban orang yang sakit secara psikologis setelah sakit fisik. Optimisme penting bagi orang sakit. 

Inilah kekuatan dalam diri yang dapat membantu menenangkan pikiran dan hati sehingga ia akan sabar menghadapi sakit yang dialaminya. Terkadang, orang yang optimistis lebih cepat sembuh daripada orang yang pesimistis atau putus asa.

Kedua, yakin bahwa Allah SWT tidak memberikan beban kecuali sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Allah Maha Pengasih dan Penyayang, terutama terhadap orang beriman. 

Dia tidak akan memberatkan hamba-Nya yang yakin akan keberadaan-Nya dan sadar bahwa sakit adalah ujian dari Allah. Allah SWT berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah [2]: 286).

Ketiga, selalu berdoa meminta kesembuhan kepada Allah dan berzikir mengingat-Nya. Allah Mahadekat, dan akan mengabulkan doa. Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS Ghafir [40]: 60). 

Di ayat lain, “Aku dapat mengabulkan permohonan orang yang berdoa pada-Ku jika ia telah memohonkan itu pada-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Sakit menguji kesabaran seseorang. Sabar itu sesungguhnya adalah salah satu bentuk ikhtiar meminta pertolongan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Mintalah pertolongan dengan sabar dan mengerjakan shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153). Wallahu a’lam. 

Penulis: Nur FaridahSumber: khazanah.republika.co.id