Hikmah dari Ahlul Jannah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh aku mengetahui penghuni neraka yang terakhir kali keluar dari neraka dan penghuni surga yang terakhir masuk surga yaitu seseorang yang keluar dari neraka dengan cara merayap, maka Allah Swt berfirman, “Pergilah kamu dari neraka dan masuklah ke dalam surga!” maka orang tersebut mendatangi surga dan melihat kondisi yang teramat sesak di dalam surga (karena dipenuhi penghuninya). Orang itu kembali kepada Allah dan bberkata, “Wahai Rabb, kutemukan surga telah penuh sesak,” maka Allah Swt berfirman, “Pergi dan masuklah ke surga!” maka ia kembali ke surga dan kembali melihat pemandangan yang sama (surga telah penuh sesak).

Lalu ia kembali kepada Allah dan berkata, “Wahai Rabb, aku telah kembali ke surga, namun kutemukan bahwa surga telah penuh, ya Rabb,” maka Allah Swt berfirman, “Pergi dan masuklah ke surga dan bagimulah surga seluas dunia bahkan sepuluh kali lipatnya,” hamba tadi lantas mengatakan, “Rabb, apakah Engkau menghinaku ataukah mengejekku sedang Engkau adalah Maharaja?” maka, kulihat Rasulullah Saw tertawa hingga gigi gerahamnya kelihatan seraya bersabda, “Itulah penghuni surga yang tingkatannya paling rendah,” (HR Bukhari dan Muslim)

Sungguh menarik jika kita mau mengambil hikmah dari kisah penghuni neraka—yang akhirnya diizinkan Allah keluar dari naar dan terakhir diizinkan masuk ke surga-Nya. Menariknya adalah betapa sebenarnya hamba ini mengakui bahwa dirinya mungkin belum layak (menyadari dosa-dosa dan kesalahannya selama di dunia) hingga akhirnya dengan rahmat Allah-lah ia bisa keluar dari panasnya api neraka dan dahsyatnya siksaan para malaikat penyiksa.

Namun saat ia berbahagia karena berhasil keluar dari neraka, ia dapati surga sudahoverload baginya—ia merasa surga tak mampu lagi menampung penghuni baru sepertinya. Satu hal yang lebih menariknya lagi, Rasulullah Saw pun saat menceritakan hadits ini kepada Ibn Mas’ud tak kuasa menahan hasrat ingin tertawa karena hamba ini mengira bahwa Allah telah menghina ataupun mengejeknya dengan memberikan balasan yang subhaanallah mulia berupa surga yang luas dan ni’matnya sepuluh kali dunia, sedangkan amalnya di dunia tidaklah seberapa.

Dr Mahmud Abdurrazak ar-Rridwani  dalam Ad-Du’au bil Asma-il Husna, mengungkapkan bahwa hadits di atas memberikan faedah bahwa kenikmatan yang paling rendah bagi ahli surga sebanding dengan sepuluh kali keni’matan yang ada di dunia.

Betapa baik dan maharaja-Nya Allah hingga Dia selalu ingin memberikan balasan yang terbaik untuk para hamba-Nya kendati kita menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa amalan apapun takkan pernah sanggup membayar kebaikan-kebaikan Allah apalagi membeli surga-Nya. Dengan sifat rahman dan rahim-Nya-lah Dia tempatkan para hamba-Nya di tempat yang telah Dia tentukan; entah itu surga maupun neraka.

Tentu saja, selain memasuki surga merupakan kehendak mutlak Allah, kita tetap diwajibkan untuk beribadah dan memohon kepada-Nya. Seperti dalam surah Ali Imran ayat 133 Allah berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu, dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (QS. Ali Imran: 133)

Atau dalam surah lain, “Berlomba-lombalah kamu sekalian untuk mendapatkan ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulNya,” (QS. Al-Hadiid : 21)

Dengan demikian, kendati surga adalah hadiah khusus tanda cinta-Nya untuk para hambanya yang bertaqwa, kita juga dianjurkan untuk berusaha dan berlomba-lomba mendapatkannya. Dengan apa? dengan amal shalih yang tulus ikhlas mengharap keridhaan-Nya.

 Allahu a’lam

Penulis: Ina Salma FebrianySumber: khazanah.republika.co.id