Bagaimana Mengadakan Jamuan Sebelum dan Setelah Pulang Haji?

Sebelum berangkat ke tanah suci dan setelah kembali ke tanah air biasanya jama’ah mengadakan acara jamuan makan atau biasa disebut dengan walimah atau sejenisnya. Bagaimana hukumnya dalam Islam mengadakan acara seperti ini? 

Beberapa ulama memang memiliki beberapa pendapat yag berbeda. Acara makan-makan ketika datangnya orang yang safar disebut An Naqi’ah. Istilah An Naqi’ah dari kata dasar An Naq’u yang artinya debu. Karena orang yang safar biasanya terkena debu di perjalanan. Terdapat hadits shahih dari Nabi SAW: “Ketika Nabi SAW datag ke Madinah, beliau menyembelih unta atau sapi betina” (HR. Bukhari no. 2923 bab Ath Tha’am Indal Qudum)

Hadits ini juga menunjukkan bahwa mengundang orang untuk mendatangi An Naqi’ah itu disyariatkan (Lihat Aunul Ma’bud, 10/11). Imam Bukhari membuat judul bab: “Bab jamuan ketika ada musafir yang datang, Ibnu Umra ra biasa menjamu makan orang yang datang kepadanya” (Fathul Baari, 6/194). Maksudnya orag-orang yang mendatangi Ibnu Umar untuk memberi salam dan menyambut kedatagannya. 

Kemudian, madzhab jumhur sahabat dan tabi’in berpendapat wajibnya memenuhi undngan untuk semua jenis jamuan makan. namun, di sini, ada beberapa perbedaan pendapat mengenai siapa yang membuat hidangannya, apakah si musafir atau ataukan orang yang menyambut dia? Namun berdasarkan nash hadits di atas dan berdasarkan atsar, pendapat yang rajih adalah pendapat pertama. 

Jamuan makan boleh dilakukan dalam rangka menyambut jama’ah haji yang baru datang, memuliakan musafir. Selain itu, acara jamuan makan ini bisa memotivasi orang untuk bisa berangkat haji. Jamuan yang dilarang adalah jamuan makan yang penuh dengan pemborosan dan akibat yang ditimbulkannya. Dalam Al Qur’an surat Al An’a ayat 141: “Jangan kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Akibat yang ditimbulkan di sini maksudnya adalah efek yang ditimbulkan seperti misalnya menjadi sebuah kebiasaan dan jika ada yang tidak mengadakan jamuan seperti ini, akan dicela, dihinakan atau dikucilkan. Adalah baik, namun jangan sampai menjadi sebuah hal yang diwajibkan.

Penulis: Puput