Sa’i, Mengajarkan tentang Kewajiban Manusia untuk Berikhtiar, Allah yag Memutuskan

Salah satu rukun Haji adalah Sa’i. Hal ini dijelaskan dalam Hadits Nabi SAW, “Lakukanlah Sa’i karena Allah mewajibkan kalian untuk melakukannya” (HR. Ahmad). Syarat Sa’i yang pertama yaitu niat. Selanjutnya dilakukan berurutan setalh Thawaf. Dilakukan berturut-turut antara setiap putaran, namun tidak apa-aa jika ada sela antara putaran, terutama jika benar-benar butuh. Selanjutnya syarat Sa’i adalah menyempurnakan hingga tujuh kali putaran dan dilakukan steelah melakukan thowaf yag shahih. 

Ibadah Sa’i adalah berjalan kaki dan berlari-lari kecil di antara kedua bukit Shafa dan Marwah dan sebaliknya. Ketika melintasi Bathnul Waadi, kawasan yang terletak diantara bukit Shafa dan Marwah, para jamaah pria disunahkan untuk berlari-lari kecil, untuk jamaah wanita berjalan cepat. Sa’i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang haid atau nifas. 

Sebelum ibadah haji dilaksanakan, Bukit Shafa dan Marwah sudah menjadi saksi sejarah perjuangan seorang Ibu daklam menyelamatkan anaknya dari kehausan puluhan abad silam. Kisah Sa’i ini yaitu bukit Shafa dan Marwah memang tak bisa dilepaskan dari kisah istri Nabi Ibrahim as, yaitu Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail as. 

Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah yang diberikan kepadanya untuk membawa serta anak dan istrinya pergi ke mekkah. Pada saat itu, Makkah belum dihuni manusia. Makkah hanya berupa lembah pasir dan bukit-bukit yang tandus dan tidak ada air. Di Mekkah ini pula kemudian Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk meninggalkan anak dan istrinya. 

Keyakinan Siti Hajar selama yang dilakukan suaminya adalah perintah Allah, maka hidupnya dalam penjaminan Allah inilah yang membuat ia merasa yakin akan baik-baik saja meskipun kondisi Mekkah seperti itu dan Nabi Ismail masih menyusu.

Saat Ismail dan ibunya kehabisan air untuk minum di Mekkah yang hanya lembah pasir dan bukit tandus, Siti Hajar pergi mencari air dari Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.  Saat lari yang ketujuh 9terakhir) ketika tiba di bukit Marwah, tiba-tiba terdengar suara yang megejutkan lalu ia menuju sumber suara itu. Siti Hajar sangat terkejut, suara itu adalah suara air memancar dari dalam tanah dengan derasnya di bawah telapak kaki Ismail. Air itulah yang kemudian kita kenal dengn air zam-zam.

Sejarah keluarga Nabi Ibrahim as ini mengajarkan kita tentang kewajiban kita untuk berikhtiar, sebagai manusia. Manusia tak selayaknya menuntut hasil atau meminta hasil yang diinginkan seperti apa, tugas manusia adalah berusaha, berikhtiar semaksimal mungkin agar Allah SWT juga memberikan hasil yang terbaik. 

Penulis: Puput